Masker, Sebuah Identitas & Realitas Budaya Baru

22
normal yang baru masker
Jadi masker menjadi salah satu kenormalan baru? yang ketika kita tinggalkan, atau lupa, maka kita tidak menjadi “normal,” keluar dari “kenormalan” menjadi “aneh”, “nyeleneh”, “nyeni”, “gila” hingga “sarap atau “sableng.” Mungkinkah itu terjadi???
Sudah hampir tiga bulan lebih kita mengalami suatu kondisi dan realitas yang bisa dikatakan ‘abnormal.’ Di luar berbagai dampak negatif yang dirasakan, tanpa kita sadari ada kebiasaan-kebiasaan baru, ada kondisi dan realitas yang juga baru. Banyak yang merasa bosan dengan kondisi terbatas macam sekarang ini, tetapi banyak pula yang kadung merasa nyaman. Mungkin saja #WFH, #KERJADIRUMAH atau #DIRUMAHSAJA menjadi satu realitas baru yang sebenarnya tidak ingin kita tinggalkan. Namanya saja, kadung merasa nyaman…Namun apa mau dikata, kondisi yang selama ini sudah kita jalani, tiba-tiba akan berubah lagi…Beberapa waktu ke depan, konon katanya, kita akan menyongsong suatu kondisi dan realitas baru, yang kerap disebut sebagai ‘new normal’ atau ‘normal baru.’
Apa yang akan terjadi pada saat ‘normal baru’? Ya saya juga kurang tahu, karena belum seratus persen menjalaninya. Semuanya masih berbentuk probabilitas, bisa menjadi sangat nyaman, bisa juga menjadi kondisi yang canggung. Namun menjelang perubahan kondisi yang akan kita hadapi ini, ada satu yang tidak berubah…yaitu penggunaan masker. Rasanya sekarang, apa pun kondisinya, perubahan apa pun yang terjadi, masker tetap menjadi satu atribut wajib yang harus dipenuhi.

Kalau mau merunut ke belakang pada sejarah peradaban manusia, sebuah masker, penutup mulut, atau boleh juga dikatakan sebagai topeng, sebenarnya memiliki kisah yang panjang dengan beragam makna yang tersemat di dalamnya. Masker atau topeng pernah menjadi suatu benda yang disucikan di peradaban dan budaya tertentu. Topeng selalu dihadirkan pada ritual-ritual relijius yang diselenggarakan sebagai bentuk representasi kekuatan ilahiah di kebudayaan tersebut. Topeng juga dianggap sebagai cerminan jiwa manusia, yang mewakili aspek imaterial dan surgawi. Oleh karena itu pada seremoni-sermoni tertentu topeng wajib digunakan untuk menutupi wujud fisik manusia yang dianggap mewakili aspek materi, fisikal dan duniawi yang kotor dan penuh dosa.
Di masa-masa berikutnya, ketika agama Samawi mulai menyebar dan menggantikan sistem kepercayaan animisme dan dinamisme, topeng tidak begitu saja ditinggalkan. Fungsi topeng berubah, tidak lagi menjadi benda yang disucikan, namun menjadi benda yang memiliki fungsi sehari-hari. Salah satunya adalah sebagai salah satu alat pendukung dalam seni pertunjukkan dan berbagai acara-acara kebudayaan. Di era sekarang ini, selain sebagai alat dukung dalam seni pertunjukkan, topeng pun dikagumi karena keindahannya bentuknya, hal yang kemudian membawa topeng menjadi salah satu produk kerajinan yang banyak dikoleksi.

Topeng pun kemudian digunakan dan dimanfaatkan fungsinya dalam kegiatan sehari-hari manusia. Umumnya dipakai sebagai pelindung muka, dalam kegiatan yang beresiko menimbulkan cedera pada wajah si pegiat kegiatan. Topeng atau yang baru-baru ini sering kita sebut sebagai masker, baru digunakan di dunia medis di sekitar tahun 60an. Sejak itulah lahir bentuk masker yang kemudian menjadi atribut wajib dalam menghadapi Covid-19.
Berbicara tentang masker sebagai sesuatu yang wajib, yang akhirnya menjadi salah satu pelengkap kita dalam berpakaian, ketika keluar rumah dan beraktivitas. Saya ingin sedikit berkhayal, sebenarnya sejak kapan kita berpakaian seperti yang sekarang ini kita pakai? Mengapa hampir seluruh manusia di dunia, di berbagai negara, di beragam budaya, nyaris berpakaian dengan gaya yang sama, baik pria maupun wanita, juga anak-anak. Kondisi apa sebenarnya yang “membuat” manusia di dunia tunduk pada satu standar utama dalam berpakaian? Siapa yang membuat aturan cara berpakaian pada manusia? Siapa saja yang bersepakat? Ini menarik untuk dipertanyakan karena ketika kita keluar dari konvensi dan kebiasaan kita dalam berpakaian, maka kita akan dianggap dan dilabeli dengan beragam hal mulai dari “unik”, “aneh”, “nyeleneh”, “nyeni”, “gila” hingga “sarap atau “sableng” dan yang pasti tidak ada istiah “normal”…kalau tidak percaya, bisa dicoba….hebat kalau anda tidak langsung dicap dengan label-label di tersebut…

Nah kembali pada masker, apakah masker kira-kira nantinya akan seperti itu, seperti pakaian? jadi masker menjadi salah satu kenormalan baru? yang ketika kita tinggalkan, atau lupa, maka kita tidak menjadi “normal,” keluar dari “kenormalan” menjadi “aneh”, “nyeleneh”, “nyeni”, “gila” hingga “sarap atau “sableng.” Mungkinkah itu terjadi???
Ketika nanti masker akan benar-benar dijadikan suatu “kenormalan” baru dalam berpakaian, tentunya ada hal yang pasti akan berubah. Kita akan kehilangan sensasi melihat ekspresi wajah “yang utuh” dari sesama. Sulit untuk melihat indahnya senyuman, bahagianya melihat gelak tawa, atau menebak emosi dari seseorang. Indsutri make up, terutama lipstik, mungkin harus berpikir ulang tentang bisnisnya, mungkin saja kaum hawa tidak lagi memperhatikan urusan seputar keindahan mulut dan bibirnya, karena toh ditutupi masker. Dan, mungkin saja produksi pasta gigi akan berkurang, mungkin saja…karena akan banyak orang tidak peduli lagi urusan bau mulutnya…mungkin saja…siapa tahu…
Panji Firman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here