Kumbakarna: Raksasa yang Bijaksana

113
Setahun lebih tinggal di Pulau Dewata mendatangkan kerinduan akan kampung halaman. Salah satu yang khas dari tanah Priangan adalah gelaran Wayang Golek yang sarat akan filosofi kehidupan, wejangan-wejangan hidup serta berbagai kritik social dalam balutan banyolan-banyolah khas Punakawan. Kerinduan itu segera terpuaskan begitu pulang kembali ke kota Bandung, kota yang selalu dihiasi oleh imut manis para wanoja Sundasenyum manis para gadis Sunda. Dengan meng-copy dari hard disk seorang sahabat, didapatlah sebuah Lakon Wayang Golek berjudul “Kumbakarna Gugur” yang dituturkan oleh seorang dalang kawakan, H. Asep Sunandar Sunarya bersama Giri Harja 3 nya.
Awalnya hanya sekedar menyimak lakon wayang golek tersebut, namun kemudian muncul keinginan untuk menelaah dan mencari informasi lebih jauh. Tokoh Kumbakarna sebagai tokoh utama dalam lakon “Kumbakarna Gugur” melahirkan sebuah ketertarikan tersendiri serta memancing kuriositas yang tinggi untuk mengenal sosoknya lebih jauh. Dengan mengacu pada lakon “Kumbakarna Gugur” versi H. Asep Sunandar Sunarya, tulisan ini akan mencoba menggali sisi lain dari Arya Kumbakarna.

Kelahiran Kumbakarna

Nama Kumbakarna berasal dari Bahasa Sansekerta. Kumba berarti panjang dan Karna berarti telinga. Kumbakarna digambarkan sebagai seorang yaksa – raksasa setinggi gunung dengan wajah yang mengerikan serta memiliki telinga yang panjang. Kumbakarna yang juga disebut dengan nama Arya Lemburgangsa ini merupakan putra kedua dari pasangan Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi. Ia mempunyai kakak bernama Rahwana dan adik perempuan bernama Sarpakenaka. Ketiga kakak beradik denawa – raksasa ini adalah buah cinta terlarang dari orang tua mereka.
kumbakarna
Wisrawa berasal dari Kerajaan Lokapala dan telah menyerahkan tahta kerajaan kepada anaknya, Prabu Danaraja. Beliau sendiri lebih memilih untuk menyepi dan mendalami ilmu religi sebagai seorang rsi. Demi meluluskan keinginan anaknya untuk mempersunting Dewi Sukesi maka beliau pergi dan mengikuti sayembara untuk memperoleh istri bagi anak kesayangannya tersebut. Sayembara yang memperebutkan Dewi Sukesi ini diprakarsai oleh Prabu Sumali, seorang raja denawa yang bijak pemimpin tertinggi di Kerajaan Alengka. Rsi Wisrawa dapat memenangkan sayembara tersebut setelah sebelumnya mengalahkan Arya Jambumangli, ia merupakan adik dari Prabu Sumali, ayahanda Dewi Sukesi dan sekaligus merupakan Sang Jago Sayembara. Jambumangli, sang raksasa sakti yang sombong akhirnya mati mengenaskan dengan kepala serta kedua tangan dan kaki tanggal dari tubuhnya. Ternyata Dewi Sukesi, Sang Putri tercantik dari Kerajaan Alengka mempunyai syarat lain, yaitu calon suaminya haruslah seorang ahli sastra yang dapat menjabarkan isi sitab sakti Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepadanya. Karena semata-mata demi anaknya, maka Rsi Wisrawa menyanggupi syarat masygul tersebut dan menjelaskan isi kitab sakti raja-diraja segala ilmu pengetahuan di bumi kepada Dewi Sukesi di Taman Keputren Kerajaan.
Begitu seriusnya mempelajari kitab sakti, hingga mereka tidak sadar telah membangkitkan ­supiyahnafsu berahi dalam diri mereka yang menutup kesadaran dan akhirnya mendorong mereka melakukan sebuah aib besar. Nasi sudah menjadi bubur, Dewi Sukesi akhirnya mengandung dan melahirkan segumpal darah bercampur dengan sebentuk telinga dan kuku dari rahimnya. Segumpal darah itu menjadi raksasa bernama Rahwana yang melambangkan nafsu angkara manusia. Telinga menjadi raksasa setinggi gunung yang bernama Kumbakarna, ia melambangkan penyesalan ayah ibunya. Sedangkan kuku menjadi raksasa wanita yang bertindak semaunya bernama Sarpakenaka. Rsi Wisrawa dan Dewi Sukesi juga mempunyai seorang putera lagi bernama Gunawan Wibisana. Anak terakhir ini berwujud manusia sempurna dengan wajah yang tampan, karena terlahir dari cinta sejati dan jauh dari hawa nafsu kedua orang tuanya.

Reinkarnasi Wijaya

Rahwana dan Kumbakarna dipercaya sebagai reinkarnasi dari Jaya dan Wijaya, dua orang denawa yang setia menjaga gerbang di Vaikuntha, Istana Wisnu. Dikenal juga sebagai dua penjaga Raksasa Dwarapala di depan istana dalam Gunungan Wayang Kulit. Wisnu yang kala itu sedang berdua dengan istrinya Lakshmi tidak ingin diganggu oleh siapapun. Jaya dan Wijaya diinstruksikan untuk tidak mengizinkan siapapun masuk. Kemudian datanglah empat orang tamu dipimpin Rsi Sanaka yang sebelumnya telah mempunyai janji untuk bertemu dengan Wisnu, akan tetapi Jaya dan Wijaya menolak mereka untuk masuk ke dalam istana. Rsi Sanaka marah dan memberi kutukan, bahwa kedua raksasa penjaga tersebut akan turun ke dunia dan lahir dua belas kali sebagai musuh Wisnu, jungjungannya.

Sesaat setelah kejadian tersebut, Wisnu datang dan mengatakan bahwa mereka berdua cukup lahir tiga kali sebagai musuh dan akan kembali lagi bersamanya. Jaya dan Wijaya pertama kali lahir sebagai Hiranyaksha yang dibunuh Varaha dan Hiranyakashipu yang dibunuh oleh Prahlada sebagai titisan Wisnu. Jaya dan Wijaya kemudian mengambil kelahiran kedua sebagai Rahwana dan Kumbakarna, yang akan terbunuh oleh Sri Rama sebagai titisan Wisnu. Di masa yang akan datang, Jaya dan Wijaya lahir sebagai Shishupala dan Dantavakra dan dibunuh oleh Wisnu yang menitis sebagai Sri Krishna.

Anugerah Brahma

Semasa mudanya, Kumbakarna pernah pergi bertapa di Alas Gokarna bersama dengan Prabu Dasamuka – Rahwana dengan maksud untuk mendapatkan anugerah dari dewa berupa kejujuran dan kesaktian. Karena berkenan dengan pemujaan yang mereka lakukan, Dewa Brahma bersama Dewi Saraswati menemui kedua kakak-beradik yang sedang bertapa itu. Brahma memberi kesempatan bagi mereka untuk mengajukan permohonan. Saat tiba giliran Kumbakarna untuk mengajukan permohonan, ia terhipnotis oleh kecantikan Dewi Saraswati yang tiada tara. Kumbakarna sebetulnya ingin memohon Indraasantahta Dewa Indra, yang berarti sebuah keistimewaan untuk menjalani hidup mewah di negeri Kahyangan Kaendran, milik Batara Indra, seperti yang terjadi pada Arjuna beberapa ratus warsatahun kemudian. Namun, ia malah mengucapkan Neendrasantidur abadi. Brahma mengabulkan permohonannya. Karena merasa sayang terhadap adiknya, Rahwana memohon kepada Brahma agar membatalkan anugerah tersebut. Brahma tidak berkenan untuk membatalkan anugerahnya, namun ia meringankan anugerah tersebut dan memberi Kumbakarna sebuah kelebihan untuk tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan. Pada saat ia menjalani masa tidur, ia tidak akan mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.
Kumbakarna selanjutnya tinggal di Kesatrian Lemburgangsa. Ia pernah pula ikut serta menyerang Kerajaan Suralaya bersama Prabu Rahwana, dan memperoleh Dewi Aswani sebagai istrinya. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama Kumbakumba dan Aswanikumba. Kedua puteranya itu gugur dalam pertempuran di Alengka. Kumbakarna memiliki dua orang paman dari pihak ibundanya yaitu Prahasta yang menjabat sebagai Mahapatih di Alengka dan Marica yang merupakan Senopati agung Alengka. Kedua pamannya tersebut gugur dalam peperangan melawan pasukan Sri Rama.

Keagungan sang putra Wisrawa

Alkisah Prabu Dasamuka sedang berbincang dengan Senopati Sayungsrana di keraton Kerajaan Alengka. Ia adalah seorang kepala intelligent sekaligus senopati baru sebagai pengganti Senopati Marica yang gugur di tangan pasukan Sri Rama dari Kerajaan Ayodya. Mereka sedang membahas tentang peperangan besar yang kini sedang berlangsung antara Prabu Dasamuka yang keukeuh mempertahankan Dewi Shinta dengan Sri Rama yang bertujuan merebut kembali Shinta, istrinya. Dalam perang beberapa hari sebelumnya, Mahapatih Alengka yang bernama Prahasta dan adik perempuan Rahwana yang bernama Sarpakenaka pun telah pula gugur di medan laga.
Sedang asyik berbincang, mereka dikagetkan oleh Raden Indrajit yang datang tergopoh-gopoh. Sebelumnya, Putra Mahkota Alengka ini ditugaskan oleh Prabu Dasamuka untuk membangunkan Arya Kumbakarna dari tidur panjangnya. Indrajit kesal dan akhirnya membangunkan Kumbakarna dengan cara mencabut bulu betisnya. Kumbakarna sangat murka atas perlakuan keponakannya tersebut dan mengejar Indrajit yang berlari menyelamatkan diri ke arah keraton. Dasamuka menyuruh putranya untuk bersembunyi dan kemudian berusaha menenangkan Kumbakarna.Kumbakarna
Arya Kumbakarna berhasil ditenangkan, Prabu Dasamuka pun menuturkan kondisi terkini kerajaan. Terjadi percakapan panjang diantara mereka. Dasamuka memperlihatkan bangunan kerajaan yang telah dibakar oleh Hanoman Perbancana Suta, utusan Sri Rama. Ia pun mengabarkan kepada Kumbakarna bahwa telah dibangun Tambakan Sibandalayu yang menghubungkan Gunung Maliyawan dan Gunung Suwela. Diceritakannya pula perihal kematian Prahasta, Marica, Sarpakenaka serta mengenai adik bungsu mereka, Gunawan Wibisana yang telah membelot ke pihak musuh setelah sebelumnya dibebastugaskan oleh Dasamuka. Setelah panjang lebar penjelasan dari Rahwana, Kumbakarna yang baru bangun dari tidur panjangnya kemudian melontarkan pertanyaan mengenai latar belakang terjadinya peperangan, karena ia sama sekali tidak tahu-menahu alasan di balik peperangan yang sedang terjadi. Atas pertanyaan Kumbakarna, maka Prabu Dasamuka menjelaskan tentang hal yang melatar belakangi peperangan akbar dengan Raja Ayodya tersebut.
Sebetulnya sejak awal Kumbakarna sudah menentang Dasamuka yang ingin mendapatkan Dewi Shinta. Namun Raja Alengka itu tidak mengindahkannya. Kumbakarna kemudian lebih memilih untuk menyepi dan memulai tidur panjangnya daripada harus berselisih paham dengan raja sekaligus kakak kandungnya. Tidur bisa diartikan menarik diri dari kehidupan politik. Menonaktifkan diri dari gemuruh riuh urusan kenegaraan yang njlimet. Dasamuka yang kolonial, ekspansif dan memuja superioritas diri sendiri telah membuat sang adik yang memegang teguh bahasa moral menjadi lelah jiwa dan raganya.

Berdasarkan penjelasan kakaknya tentang latar belakang terjadinya perang, Kumbakarna akhirnya berusaha membujuk Dasamuka untuk menyerahkan kembali Dewi Shinta kepada Sri Rama dan menyarankan untuk meminta maaf kepada Sang Raja Ayodya, karena hanya itu cara untuk mengakhiri peperangan ini.
Teu aya deui, hiji-hijina jalan pikeun ngarengsekeun ieu pacogregan lintang ti Dewi Shinta gera sanggakeun deui ka Batara Rama.
Tidak ada lagi, satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini yaitu Dewi Shinta harus diserahkan kembali ke Bhatara Rama.
Kumbakarna pun menawarkan diri untuk menghadap Sri Rama dan meminta maaf kepadanya.
Rayi dek sumolono, rek menta dihampura bari urang nyokot dulur urang si Gunawan, ameh riung mumpulung deui. Keun we kajadian nu atos mah atos, Kang.
Saya akan menghadap, untuk minta maaf sambil menjemput saudara kita Gunawan, agar kita dapat berkumpul bersama kembali. Kejadian yang lalu, biarlah berlalu, Kakanda.
Tanpa menanggalkan rasa hormatnya, Kumbakarna berusaha mengingatkan Rahwana untuk menghentikan langkahnya yang salah.
Harkat, wibawa, komara wangsa denawa sakaligus luntur ku ayana kalakuan akang. Ieu teh karep akang, nafsu akang! Lebar eta kalungguhan akang the geus kaciluk ka kandangewu, kaloka kajandapria kajamparing angin-angin kakoncara ka manca nagara. Wibawa, komara Raja beunghar, Raja gagah, sakti mandraguna ayeuna tigubrag ngaran akang ku cara saeutik kieu.
Harkat, wibawa, kharisma bangsa denawa sekaligus luntur karena perilakumu. Ini disebabkan oleh Kakanda, nafsu Kakanda!. Sungguh sangat disayangkan tahtamu yang sudah terkenal kemana-mana. Wibawa, kharisma Raja kaya raya, Raja gagah, sakti mandraguna sekarang jatuh dikarenakan hal sepele ini.
Dasamuka murka, ia tidak terima dinasihati oleh adiknya. Arogansinya sebagai seorang kakak dan seorang raja telah mendominasi dirinya dan menutup logikanya. Dasamuka tidak suka otoritasnya diganggu oleh siapapun, termasuk oleh Arya Kumbakarna yang merupakan adik kandungnya sendiri. Dasamuka malah mengusir Kumbakarna dari kerajaan. Hampir terjadi perkelahian di antara mereka. Untungnya kedua bersaudara ini dapat saling menenangkan diri.
Da ditempo kadituna mah ieu nagara teh diruksakna ku anjeun lain ku Batara Rama, lain ku monyet. Tapi anjeun ieu anu ngaruksak nagara jeung bangsa teh. Anjeun musuh kawula teh.
Dilihat dari akar masalahnya Negara ini sebetulnya dirusak oleh mu (Dasamuka) bukan oleh Batara Rama, bukan oleh monyet. Tapi kaulah yang merusak Negara dan bangsa ini. Kaulah musuhku yang sesungguhnya.
Arya Kumbakarna semula tidak bersedia untuk turun ke medan laga dan berperang melawan Pasukan Sri Rama. Ia merasa bahwa kebijakan kakaknya-lah musuh yang sebenarnya. Di sisi lain, ia juga tidak rela tanah airnya dirusak bangsa lain. Kumbakarna teringat akan sumpah setianya untuk membela negara. Sumpah seorang pria, seorang satria yang pantang untuk dilanggar. Sumpah ini pula yang menjadi motivasi Kumbakarna untuk turun berperang.
Kumbakarna rek indit ka medan jurit, lumampah ka medan danalaga, lumaku ka medan tempur. Tapi niat dina hate lain rek ngabelaan kamurkaan anjeun (Dasamuka), lain rek mertahankeun Shinta. Tapi rek melaan lemah cai nu diruksak ku anjeun.
Kumbakarna akan berangkat ke medan tempur. Tapi niat dalam hati bukan untuk membela engkau (Dasamuka), bukan untuk mempertahankan Shinta. Tapi untuk membela tanah air yang telah kau (Dasamuka) rusak.
Setelah berpamitan dan meminta maaf kepada kakak dan keluarganya, Arya Kumbakarna pun pergi. Beliau membawa sejumlah bala tentara raksasa dari Alengka dan Lemburgangsa, juga menyertakan Kumbayaksa yang menjabat Patih di Lemburgangsa. Bala Tamtama Arya Kumbakarna ini pergi berperang tanpa rasa dendam dan permusuhan, semata-mata hanya untuk membela negara. Bukan membela kediktatoran Dasamuka dan ambisi pribadinya. Kumbakarna berdiri paling depan sebagai leader bagi pasukannya. Sebelum berperang sebetulnya ia ingin terlebih dahulu bertemu dan bercengkrama dengan adiknya Gunawan Wibisana dan Sri Rama. Namun sayang niatnya ini dihalangi oleh beribu pasukan wanara. Bagai topan yang melanda, Kumbakarna menerjang bala tentara wanara. Puluhan bahkan ratusan kera besar dan kecil bergelimpangan dihantam Arya Lemburgangsa.

Entah dari mana munculnya, tiba-tiba Prabu Sugriwa, Raja dari Kerajaan Kiskenda telah tegak di hadapan Kumbakarna. Dengan sikap ramah dan penuh persahabatan, Kumbakarna mengucapkan salam kepada raja wanara yang juga merupakan adik dari Rsi Sobali ini. Raja kera ini kaget bukan alang-kepalang. Kumbakarna menjelaskan siapa dia sebenarnya dan motivasinya berperang. Kumbakarna juga mengutarakan harapannya yang ingin bertemu dengan Gunawan dan Sri Rama, namun Sugriwa tidak dapat meluluskan harapan tersebut karena di luar otoritasnya yang hanya sebagai seorang Senopati perang. Prabu Sugriwa pun akhirnya maklum dengan sikap ramah Kumbakarna ini. Skenario jagat telah mempertemukan kedua ksatria ini. Walaupun tanpa dendam dan permusuhan, tapi mereka tetap harus berperang demi mempertahankan keyakinan dan tanah air. Dalam duel ini Prabu Sugriwa dengan tubuh yang lebih kecil dapat mendesak Kumbakarna. Ia bergelantungan dengan cakarnya di kedua telinga sambil menggigit hidung Kumbakarna. Arya Lemburgangsa kemudian merapal Ajian Bekah dan meniupkan angin yang sangat kencang dari rongga mulutnya. Naas bagi Kumbakarna, kedua daun telinga dan hidungnya ikut terlempar bersama Prabu Sugriwa. Ia pun menderita luka parah di hidung dan telinganya. Dalam lukanya, Kumbakarna meratap dalam hati dengan memanggil nama Dasamuka. Suara hati seorang ksatria tak berdaya yang kecewa atas action dan kebijakan dari atasannya yang telah merugikan dan merusak Ibu Pertiwi.
Aduh Gusti, irung sumpung, ceuli rawing. Nuhun Dasamuka, aing nepi ka diruksak kieu. Teu aing mah teu asa direwek monyet, asa ku si Dasamuka we aing mah. Muga-muga we lemah cai, ieu nyakclakna getih kawula saolah-olah nyebor anjeun Ibu Pertiwi. Moga-moga sing katebus kamerdekaan nagara anu diruksak ku Dasamuka.
Aduh Gusti, hidungku terluka, telingaku sobek. Terima kasih Dasamuka, aku sampai dicederai seperti ini. Bukan oleh kera, serasa engkaulah yang melakukanya Dasamuka. Semoga tetesan darah hamba ini bisa seolah-olah menyirammu, wahai Ibu Pertiwi. Semoga kemerdekaan Negara yang telah dirusak oleh Dasamuka ini bisa diperoleh kembali.
Prabu Sugriwa terpental dengan membawa serta daun telinga dan hidung Kumbakarna. Sebelum terjatuh ke tanah ia berhasil diselamatkan oleh Hanoman Perbancana Suta. Sugriwa kemudian menghadap Batara Rama untuk menyampaikan harapan Kumbakarna. Sementara itu, dari pihak Bala tentara Kumbakarna sudah banyak yang perlayatewas, Patih Kumbayaksa juga telah gugur di tangan Subodra, salah satu senopati kera pasukan Bhatara Rama.
Sepeninggal Sugriwa, Kumbakarna harus menghadapi serbuan dari pasukan wanara. Ribuan kera menyerbu ke arah Kumbakarna. Kumbakarna kembali mengamuk, pasukan kera banyak tewas dihajarnya. Di tempat lain, Sugriwa telah berhasil menemui Sri Rama dan menyampaikan laporannya. Sri Rama kemudian memerintahkan Gunawan Wibisana untuk berkenan menemui kakaknya yang sedang mengamuk di tengah pertempuran. Dengan kesaktiannya, Hanoman kemudian berteriak memrintahkan semua pasukannya mundur untuk memberi kesempatan bagi Gunawan Wibisana bertemu dengan kakaknya. Hal ini sontak membuat kaget Arya Kumbakarna, kekagetan yang di kejap berikutnya berganti kebahagiaan yang tidak terhingga karena mengetahui adiknya sedang berjalan ke arahnya.
Sosok tinggi besar Kumbakarna memudahkan Raden Gunawan untuk mengenalinya. Dari jauh ia sudah dapat mengenali sosok kakak tercintanya itu. Kumbakarna sudah tidak sabar untuk dapat bertemu dengan adik bungsunya tersebut. Namun kenyataan berkata lain, begitu sudah dekat Raden Gunawan semakin jelas melihat rupa kakaknya itu. Keadaan fisik Kumbakarna yang menyedihkan dengan darah berlumuran dan luka dimana-mana membuat Gunawan tidak tega menyaksikannya dan mngurungkan niat untuk menemuinya. Hal ini meninggalkan kesedihan yang sangat mendalam pada Arya Kumbakarna.
Hanoman kemudian memerintahkan pasukannya untuk kembali mengepung Arya Kumbakarna. Pertempuran yang tidak fair antara Arya Kumbakarna melawan ribuan pasukan kera pun kembali berlangsung. Di sisi lain Gunung Suwela, Raden Laksmana memutuskan untuk membidikkan panah pusakanya ke tenggorokan dan jantung Arya Kumbakarna untuk dapat segera mengakhiri perlawanannya dan agar tidak jatuh korban lebih banyak. Panah melesat cepat mengarah tepat ke arah Kumbakarna dan sama sekali tanpa disadarinya. Sekejap lagi panah itu akan mengenai kerongkongan dan jantungnya, Arya Kumbakarna berkelit untuk menghindari serangan dari beberapa ekor kera. Panah itu pun akhirnya membabat putus kedua tangan Kumbakarna. Tragedi itu membuat gusar Batara Rama yang mengira Laksmana sengaja melakukan hal tersebut. Sri Rama tidak berkenan atas perlakuan adiknya yang berkesan melecehkan musuhnya. Syahdan, Arya Kumbakarna kembali bermonolog dalam hatinya.
Gusti nu Maha Agung, bilih dosa Ibu Rama. Dasamuka, teu asa ku deungeun-deungeun aing mah. Asa ku anjeun we, Dasamuka. Heug leungeun, pileuleuyan. Enya karasana mah ayeuna anggota badan teh geuning mangpaat kabeh oge. Gusti, meureun abdi keur cageurna keur aya leungeunan keneh teu eling teu bisa ngagunakeun ieu leungeun. Rumaos kawula teh sare wae di dunya teh.
Tuhan Yang Maha Agung, mungkin ini dosa Ayah dan Ibu hamba. Dasamuka, aku tidak merasa ini dilakukan oleh orang lain. Engkaulah yang melakukannya, Dasamuka. Selamat tinggal tangan. Baru terasa sekarang bahwa semua anggota badan itu bermanfaat. Tuhan, mungkin dulu waktu aku masih sehat, masih punya tangan tidak ingat kepada Engkau dan tidak bisa menggunakan tangan ini dengan sebaik-baiknya. Maafkan karena kerjaku hanya tidur selama di dunia.
Kehilangan kedua belah tangan memang membuat Arya Lemburgangsa menyesali dan meratapi perbuatannya terdahulu, namun tidak lantas membuat ia menyerah. Ia masih berusaha bangkit dan melawan gempuran pasukan kera. Tiba-tiba terasa ada sesuatu yang mengenai kedua belah pahanya. Ternyata dua buah anak panah telah memutuskan kedua belah kakinya sehingga Sang Arya kembali ambruk dengan bergelimang darah. Ratapan menyayat hati kembali terucap di hati Kumbakarna. Ratapan yang penuh kepasrahan dari seorang hamba pada Sang Khalik.
Aing teh beuki hees meureun teu bisa ngagunakeun lengkah keur hirup. Nun Gusti, rumaos abdi gede dosa nyanggakeun kana kersana. Abdi mah teu boga naon-naon, teu ngabogaan naon-naon. Leungeun, suku geus kagungan salira. Daya na, upaya na, usik na, malik na teu ngaboga-boga. Tapi inget, aing teh keur bajoang. Sanajan aing kaayaan geus kieu, sumanget juang mah terus. Piraku we teu ngabunuh heula.
Mungkin aku gemar tidur sehingga tidak dapat menggunakan kakiku untuk melangkah dalam kehidupan. Ya Tuhan aku banyak dosa, aku pasrahkan semua kehadirat-Mu. Aku tidak punya apa-apa dan tidak memiliki apapun. Tangan, kakiku sudah kembali pada-Mu. Daya, upaya dan gerakku hanya milik-Mu. Tapi teringat aku sedang berjuang. Walaupun keadaan ku sudah seperti ini, semangat juang harus terus ada. Bagaimana mungkin aku tidak bisa membunuh dahulu.
Arya Kumbakarna kemudian sekuat tenaga berusaha menggulingkan tubuh raksasanya ke arah serombongan pasukan kera yang sedang memperhatikan kenaasan yang menimpanya. Pasukan kera banyak yang tewas karena dilindas oleh tubuh besar Kumbakarna. Bagaimanapun kuat dan saktinya Sang Warchief, lama-kelamaan ia menjadi lemas karena terlalu banyak kehilangan darah. Dalam kondisi menjelang kematiannya itu, Arya Kumbakarna masih sangat berharap dapat bertemu dengan adik bungsunya.
Berkat kesaktiannya, Batara Rama memiliki kemampuan untuk dapat mendengar suara hati Arya Kumbakarna. Bersama Gunawan Wibisana, Sri Rama kemudian berjalan untuk menemui Kumbakarna. Sambil menutup muka dengan kedua tangan karena tidak kuasa melihat keadaan fisik kakaknya, Gunawan akhirnya dapat bertemu dengan Arya Kumbakarna. Dengan berlinang air mata, Raden Gunawan bersimpuh di atas tubuh kakaknya. Suasana penuh haru serentak menyelimuti medan peperangan. Kumbakarna berwasiat kepada adiknya agar terus mengabdi kepada Sri Rama, sosok yang dianggap Kumbakarna sebagai messiah di dunia. Agar selalu menjaga dan memelihara Negara. Beliau juga menitipkan adik kesayangannya itu ke Bhatara Rama. Dalam hati dan di antara isak tangisnya, Raden Gunawan menyesali keadaan kakaknya. Seorang patriot sejati pembela bangsa yang akhirnya harus gugur sebagai prajurit dari pihak angkara murka. Ksatria dari Negeri Alengka itu kemudian tutup usia dengan damai, diiringi untaian doa dari Raden Gunawan, Bhatara Rama dan Lurah Semar Badranaya di tengah hujan rintik yang membasahi padang tempat pertempuran berlangsung.
Di hari kematian Kumbakarna, Sri Rama mengibarkan gencatan senjata mengadakan upacara penghormatan atas kematian sang kusuma bangsa, simbol penghormatan kepada Kumbakarna atas keberanian, dan semangat bertempur sebagai seorang pejuang. Kerajaan Alengka dan Rahwana pun benar-benar kehilangan salah satu pahlawan terbaiknya. Sungguh ironis, Kumbakarna seorang putra bangsa pembela Ibu Pertiwi yang berjuang dengan hati harus gugur sebagai prajurit dari pihak diktator monarki tak punya hati. Mungkin inilah salah satu bentuk skenario kehidupan yang terkadang kita anggap nonsense.
Berdasarkan kutipan-kutipan dialog di atas beserta pemaparannya, dapat kita lihat nilai-nilai luhur yang tercermin dari sosok Arya Kumbakarna. Seorang patriot pembela bangsa yang mengabdi pada kebenaran yang sejati. Sebuah sikap nasionalisme luhur yang mungkin sudah mulai terkikis luntur di hati para ”patriot” masa kini. Pahlawan sejati yang sangat dihormati, pun oleh seterunya. Sosok ksatria rendah hati yang selalu menerapkan keramah-tamahannya kepada siapapun, termasuk kepada orang yang tidak berpihak kepadanya. Kumbakarna juga adalah seorang religius yang menyadari betul ketidakberdayaannya di hadapan Sang Maha Tunggal dan pasrah menerima karmapala yang harus ia jalani. Arya Kumbakarna, sang adipati Lemburgangsa seolah-olah ingin bercerita kepada kita akan kearifan hidup dan laku yang harus ditempuh oleh seorang ksatria sekaligus patriot sejati di dalam kehidupan.
 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here