Gajah Dalam Kosmologi Nusantara Bagian II: Konsepsi Islam

136

Gajah dalam konsepsi islam

Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas bagaimana penggambaran gajah di dalam kosmlogi Hindu. Kali ini kita mencoba membahas bagaimana konseps gajah dalam islam serta pengaruhnya pada kebudayaan Nusantara.

Dalam berbagai konsepsi relijius yang pernah mewarnai perjalanan sejarah bangsa ini, Islam tentu saja menjadi salah satu warna yang dominan. Hal ini pula yang menyebabkan hingga hari ini, Islam dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia. Berbicara tentang konsepsi Islam, maka harus pula dikaitkan dengan Al Quran dan Al Hadist sebagai pegangan utama umat muslim.
Proses penyebaran Islam di Nusantara pun tidak terlepas dari dua pedoman tersebut. Berkaitan dengan dunia fauna, dalam kitab suci Al Quran, ada lima nama hewan yang diabadikan sebagai nama surat di dalamnya, salah satunya yang berkaitan dengan tulisan ini adalah Al-Fiil – Gajah. Pengabadian nama gajah atau ke-empat nama hewan lainnya dalam Al-Qur’anul Karim ini bukanlah bertujuan untuk mengkultuskannya, tetapi justru sebagai pelajaran, peringatan serta sebagai tanda-tanda kebesaran Allah swt di muka bumi.
Tidak cukup satu artikel ini saja kiranya untuk membahas penafsiran dari kemuliaan surat Al-Fiil ini, namun saya akan lampirkan kutipan dari Tafsir Al-Mishbah yang membahas surat Al-Fiil untuk sedikit memberi gambaran mengenai hubungan antara gajah dengan sejarah peradaban manusia.
…Syekh Muhammad ’Abduh misalnya, memulai penjelasannya tentang ayat-ayat di atas dengan menyatakan bahwa: ”Surah ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah swt. Mengajar Nabi-Nya dan umat manusia melalui satu dari sekian banyak perbuatan Tuhan, yang menunjukkan betapa besar kekuasaan-Nya dan bahwa segala kekuasaan tunduk di bawah kekuasaan-Nya. Dia Yang berkuasa atas hamba-Nya. Tiada ada kekuasaan dan kekuatan yang dapat melindungi mereka dari kekuasaan Allah, sebagaimana dibuktikan dalam peristiwa yang menimpa tentara bergajah itu, yang tadinya merasa diri kuat dengan jumlah personil dan peralatan mereka. Sebenarnya dalam rangka memetik pelajaran, kita dapat mencukupkan penjelasan tentang hal ini sebagaimana termaktub di atas karena peristiwa yang dialami oleh tentara bergajah itu sedemikian penting, sehingga penduduk Mekah menjadikannya sebagai tahun permulaan penanggalan mereka.” (Shihab., 2007 : 527).
Peristiwa yang diangkat dalam surat Al-Fiil adalah peristiwa ketika Abrahah, seorang raja dari Yaman, beserta bala tentara bergajah berusaha untuk menghancurkan Ka’bah di Mekah. Allah swt dengan kekuasaan-Nya yang maha dahsyat kemudian mengirim bala bantuan berupa burung-burung yang berbondong-bondong kemudian melempari batu ke pasukan Abrahah tersebut untuk melindungi Ka’bah.

Pasukan bergajah itu luluh lantak, hingga diibaratkan seperti daun-daun yang dimakan ulat. Peristiwa besar itu kemudian diabadikan menjadi tahun permulaan penanggalan orang Mekah – disebut dengan Tahun Gajah. Pada tahun ini pula Rasullulah dilahirkan, namun dalam tafsir Al-Mishbah, disebutkan pula bahwa ada yang berpendapat bahwa peristiwa tersebut terjadi 23 tahun sebelum kelahiran Rasulullah, ada juga yang berpendapat 40 tahun sebelum kelahiran, namun, pendapat pertama-lah yang paling populer.
Dari pemaparan singkat di atas, tentunya dapat kita lihat bahwa sosok hewan gajah dalam konsepsi islam sudah erat hubungannya dengan manusia bahkan sebelum Rasulullah lahir di muka bumi. Sebagai salah satu nama hewan yang diabadikan sebagai nama surah dalam Al-Quran, tentu saja gajah memiliki keistimewaan lain yang harus kita pelajari lebih dalam. Bagi umat muslim tentu saja mempelajari dan mengamati gajah sebagai hewan istimewa, baik itu keistimewaannya secara individu atau hubungannya dengan manusia adalah sebuah proses mengenali dan memaknai tanda-tanda kebesaran serta kekuasaan Allah swt di jagat raya ini.

Artikel Sebelumnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here